Toko “OEN” di Belanda

Dari Nasi Rames sederhana, Rijsttafel Prasmanan , sampai Menu Spesial Harian

Banyak tamu dari Belanda di restoran di Semarang menyarankan supaya Toko “Oen” juga berpartisipasi di Pasar Malam Besar di Den Haag. Banyak orang Belanda yang pernah tinggal di Indonesia merindukan dapur nostalgia Oma Oen. Maka sejak tahun 1994 Toko “Oen” Semarang membuka sebuah kedai di Pasar Malam di Den Haag.

Dalam mengorganisir kegiatan ini datang juga berbagai tantangan, salah satunya karena keadaan bahwa Toko “OEN” itu beroperasi dari Indonesia. Peralatan dapur lengkap profesional harus disewa, layanan inspeksi badan pengawasan pangan ingin ini, dinas pemadam kebakaran ingin itu, dan sebagainya.

Chefs diterbangkan dari Semarang ke Den Haag dan harus melakukan tugas mereka tanpa banyak brigade dapur mereka. Memang mereka dibantu oleh staf lain, tetapi karena banyaknya yang harus dikerjakan, sebelum semua orang menyadari dan terbiasa dengan kegiatannya, Pasar Malam sudah berakhir.

Menu khas seperti nasi rames, ayam goreng dan sate yang dibakar di tempat sangat dihargai oleh pengunjung. Makanan ringan seperti lumpia, lemper dan risoles juga laris terjual.  Berbagai penyanyi, termasuk Hartono dari Semarang, melengkapi atmosfir dengan membawakan lagu-lagu tempo dulu untuk mendukung suasana tempo dulu.

Rijsttafel, Ikan Bakar dan Menu Harian

Orang Belanda pada umumnya ingin menikmati makan malam pada pukul 6 sore dan semua orang ingin mendapatkan ordernya tepat waktu, tapi karena semuanya harus disiapkan di tempat, hal ini sulit dipenuhi. Untuk mengatasi hal ini, sejak tahun 1997 dikenalkan formula baru: rijsttafel prasmanan. Para tamu bisa memilih sendiri makanan apa yang mereka inginkan dan kemudian mencari tempat untuk duduk.

Setelah prasmanan, beberapa tahun yang lalu menu khusus masakan khas Jawa Tengah seperti nasi gudeg nasi, lontong capgomeh, ikan bakar dan ikan goreng diluncurkan. Masakan-masakan ini hanya efektif ketika diracik dalam komposisi yang tepat. Menu ini terpisah dari prasmanan dan disiapkan spesial di dapur.

Selama Tong Tong Fair 2009, sesuatu yang baru diperkenalkan: menu harian. Setiap hari disajikan kombinasi yang berbeda dari hidangan yang sudah ada. Para tamu mendapat hidangan mewah untuk harga yang wajar. Menu baru lainnya adalah mie bakso, hidangan yang mempunyai popularitas tinggi di generasi muda di Indonesia.

“Lumpia Toko Oen” dan “Lumpia Semarang”

Egg roll (lumpia) berasal hidangan Cina yang kemudian dimasukkan dalam kuliner Indonesia. Kata Bahasa Indonesia “Lumpia” mungkin berasal dari Cina “Lun Pia” yang mungkin berarti “pancake lunak”. Biasanya, hidangan ini dimakan sebagai hidangan dim sum atau makanan ringan. Lumpia terbuat dari kantong memanjang yang terbuat dari sepotong tipis adonan tepung, yang dengan sendirinya dapat dimakan, mengandung daging dan sayuran. Adonan dilipat seperti amplop dan kemudian digoreng, atau dimakan mentah.

Lumpia Semarang berasal dari berabad-abad yang lalu, dari waktu imigran Cina pertama mendarat di pelabuhan Semarang.Resep ini diadaptasi dari daratan Cina. Pengisian menggunakan rebung, udang, ebi (udang kering) dan kepiting. Karena bahan-bahan ini cukup mahal, resep berubah dan lahirlah Semarang Lumpia modern yang diisi dengan rebung, ayam dan telur seperti yang kita kenal sekarang.

Lumpia juga dikenal di restoran di Belanda. Hanya ini tampaknya sedikit lebih asli, tetapi dirancang untuk dijual kepada konsumen Belanda yang ingin hidangan dengan ukuran lauk dan juga disesuaikan dengan selera Barat.

Selama Tong-Tong Fair 2009 Toko Oen memperkenalkan “Lumpia Toko Oen” kepada pengunjung, resep lumpia asli yang mengandung ebi dan rebung. Para tamu juga dapat mencoba “Lumpia Semarang” sesuai dengan resep dapur masyarakat Indonesia.

No comments yet.

Leave a Comment

*